Skip to main content

3 Kebijakan Baru WhatsApp yang Harus Anda Tahu

Kebijakan Baru WhatsApp

3 Kebijakan Baru WhatsApp yang Harus Anda Tahu

Pada Desember 2020 lalu, pengguna WhatsApp digegerkan dengan informasi kebijakan baru aplikasi chat populer ini. Terlebih rumor yang beredar bahwa kebijakan baru WhatsApp tersebut beresiko terhadap privasi data pengguna.

Bagi pengguna yang tidak menyetujui kebijakan baru ini, mau tidak mau jadi tidak bisa mengakses aplikasi chatting ini. Nah, sebenarnya seperti apa ketentuan dan kebijakan terkait privasi yang dikeluarkan WhatsApp? Benarkah kebijakan tersebut ditunda? Simak ulasannya di bawah ini:

3 Kebijakan Baru WhatsApp

Perlahan tapi pasti, pengguna WhatsApp akan menerima tampilan menu pop up yang muncul ketika membuka aplikasi ini. Pada dasarnya, terdapat tiga kebijakan yang akan diatur WhatsApp, yaitu sebagai berikut:

  1. Bagaimana pihak WhatsApp akan mengelola dan memproses data yang masuk dari pengguna WA?
  2. Bagaimana pebisnis memanfaatkan layanan yang disediakan Facebook untuk mengelola pesan di aplikasi WhatsApp?
  3. Bagaimana WhatsApp berintegrasi dengan Facebook mengenai produk yang akan ditawarkan di kemudian hari?

Jika diperhatikan, ketiga aturan tersebut memperlihatkan bahwa data pengguna WhatsApp akan diproses dan dishare ke Facebook. Mengenai aturan ini, tidak sedikit pengguna yang merasa privasinya terganggu.

Bahkan sudah banyak pengguna WhatsApp yang beralih ke Telegram karena tidak ingin datanya terikat dengan perusahaan manapun.

Benarkah Aturan Ini Sudah Berjalan Lama?

Pada dasarnya aturan di atas bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan sudah ada sejak 2016, yaitu tahun dimana WhatsApp diakuisisi oleh Facebook. Jadi, semua data pengguna WhatsApp juga tersimpan di server Facebook.

Melalui kebijakan tersebut, pengguna memiliki opsi untuk tidak menyetujui data mereka dishare ke Facebook. Berbeda dengan kebijakan baru WhatsApp kali ini, pengguna wajib menyetujui untuk membagikan data ke media sosial Facebook.

Apa Saja Hal Baru dalam Kebijakan Baru Ini?

Seperti informasi yang dirilis Gadgets.ndtv.com, kebijakan WhatsApp yang diperbarui ini terkait informasi mengenai bagaimana pihak aplikasi mengelola dan menangani data penggunanya.

Terdapat hal baru meliputi Transaksi, Data Pembayaran, dan Informasi Lokasi untuk memberikan rincian data yang tepat. Tidak hanya itu, kebijakan ini juga meliputi informasi spesifik mengenai interaksi bisnis yang terjadi via aplikasi chatting ini.

Keuntungan Kebijakan Baru WhatsApp untuk Pengguna

WhatsApp memiliki alasan tersendiri untuk membagikan data pengguna ke Facebook. Hal ini tak lain demi kenyamanan dan keamanan. Mengapa demikian? Hal ini karena data yang terintegrasi akan memudahkan media sosial Facebook, untuk menyarankan konten dan fitur tertentu.

Misalnya fitur Tambahkan Teman yang bisa diambil berdasarkan kotak WhatsApp. Selain itu, hal ini akan berguna untuk personalisasi fitur yang memudahkan penggunanya. Tidak hanya itu, aturan baru ini mendukung “keamanan, keselamatan, dan integritas”.

Misalnya dengan penanganan penyalahgunaan data dan spam yang mengganggu. Dengan mengeluarkan kebijakan baru, pihak WhatsApp akan lebih mudah meningkatkan mutu dan infrastruktur aplikasi. Termasuk sistem pengiriman akan lebih sesuai.

Jadi, pengguna bisa membantu dengan memahami cara kerja dari layanan Facebook dan WhatsApp itu sendiri.

Klarifikasi dari WhatsApp

Informasi mengenai kebijakan baru ini nyatanya membawa respon yang luar biasa bagi penggunanya. Bahkan banyak yang berbondong-bondong menggunakan aplikasi chatting lain.

Oleh karena itu, hal ini membuat WhatsApp menunda kebijakan barunya. Seperti yang telah diketahui, notifikasi persetujuan ini akan disampaikan hingga 8 Februari 2021. Lalu, seperti apa bentuk klarifikasi dari WhatsApp terkait kebijakan baru yang diberikan? Berikut ulasannya:

1. Penangguhan Kebijakan Baru

Dikutip dari Business Insider, pihak WhatsApp memutuskan untuk menunda aturan baru ini sampai 15 Mei 2021. Sedangkan sebelumnya masyarakat sempat dihebohkan dengan penghapusan akun yang tidak setuju dengan kebijakan ini di 8 Februari nanti.

Latar belakang penundaan itu sendiri karena adanya disinformasi mengenai kebijakan privasi baru yang dikeluarkan. Pada dasarnya, aturan baru ini hanya meliputi pebisnis yang mengelola bisnis mereka melalui WhatsApp maupun WhatsApp Business.

Artinya, kebijakan baru ini hanya berkaitan dengan transaksi chat ke akun bisnis yang pada dasarnya merupakan opsional. Hal ini tidak akan menyangkut pada akun WhatsApp pribadi yang sempat heboh beberapa waktu lalu.

Namun, menurut beberapa pengamat, kebijakan baru ini cenderung memaksa pengguna WhatsApp untuk membagikan data mereka ke Facebook. Seperti yang diketahui Facebook sendiri merupakan induk perusahaan WhatsApp sejak diakuisisi.

2. Data Pribadi Tidak Akan Bocor

Banyak rumor yang beredar bahwa kebijakan baru dari aplikasi chatting ini membuat berbagai data pribadi bisa bocor. Padahal, hal ini tidak benar karena pihak perusahaan tidak akan bisa melihat data percakapan, telepon, maupun gambar.

Adapun 5 poin penting klasifikasi WhatsApp terkait data pribadi adalah sebagai berikut:

  • WhatsApp dan Facebook tidak bisa melihat chat pribadi dan percakapan via panggilan pengguna. Selain itu, sistem keamanan percakapan yang dilakukan masih bersifat end-to-end encryption.
  • WhatsApp tidak melakukan pencatatan ataupun menyimpan panggilan yang dilakukan pengguna.
  • WhatsApp tidak membagikan kontak pribadi yang dimiliki pengguna ke Facebook.
  • WhatsApp dan Facebook tidak bisa mengakses lokasi yang dibagikan via percakapan pribadi ataupun grup.

3. Chat Grup Tetap Bersifat Pribadi

Tidak jauh berbeda dengan chat pribadi, tersebar rumor bahwa WhatsApp bisa mengakses percakapan yang dilakukan via grup. WhatsApp menegaskan bahwa obrolan tersebut telah dilindungi dengan enkripsi yang sama seperti chat pribadi, yaitu end-to-end.

  • Apakah WhatsApp Masih Bisa Mengakses Metadata Pengguna?

    Seperti informasi dari Business Insider, banyak pengamat yang membenarkan klarifikasi WhatsApp yang tidak akan membagikan data ke Facebook. Mengingat sistem keamanan yang digunakan dalam chat bersifat end-to-end.

    Namun, metadata milik pengguna pada dasarnya masih bisa diakses pihak WhatsApp. Artinya, pihak yang sedang melakukan percakapan dengan pihak lain masih bisa diketahui. Begitu pula dengan waktu dan lokasinya.

    Seorang ilmuwan komputer dari University of Surrey, Alan Woodward mengungkapkan bahwa WhatsApp hanya membagikan jenis metadata dan mengintegrasikannya dengan Facebook.

    Namun, pihak Facebook sendiri secara terang-terangan mengungkapkan bahwa sistem bisnis yang dijalankan berhubungan dengan data pengguna. Hal ini ditujukan untuk mendapatkan keuntungan dari transaksi bisnis yang mungkin terjadi via Facebook itu sendiri.

  • Apakah Kebijakan Baru dari WhatsApp Masih Tidak Aman?

    Seorang profesor dari De Montfort University, Eerke Boiten menyatakan bahwa kebijakan WhatsApp untuk menghapus akun yang tidak setuju merupakan “Keputusan terburuk yang diambil WhatsApp”.

    Seperti yang diketahui, klarifikasi WhatsApp mengenai aturan baru hanya mempengaruhi chat yang dikirim ke akun WhatsApp Business. Namun, Profesor Eerke mengungkapkan bahwa hal ini tetap berpotensi terhadap pelanggaran privasi. Hanya saja caranya mungkin lebih halus.

    Meski pada dasarnya, kebijakan ini masih bergantung pada Facebook selaku induk perusahaan. Pihak Facebook adalah yang berpengaruh untuk mengontrol metode akses yang selama ini berlaku.

Semoga informasi di atas bisa membuka wawasan kita terhadap kebijakan privasi yang dirilis oleh WhatsApp. Meski pihak WhatsApp sendiri sudah melakukan klarifikasi, sebaiknya pengguna tetap berhati-hati. Selain itu, sebaiknya tidak bergantung pada satu aplikasi chatting WhatsApp saja. Terima Kasih dan Semoga Bermanfaat!