Skip to main content

Merasa Depresi Selama Pandemi? 4 Tips Ini Membantu Kamu!

Depresi

Merasa Depresi Selama Pandemi? 4 Tips Ini Membantu Kamu!

Pandemi COVID-19 tidak hanya membawa dampak fisik, tetapi juga psikis. Gangguan psikis ini terjadi karena pembatasan sosial yang meminimalkan interaksi. Akibatnya, seseorang mudah cemas bahkan depresi. Tenang jika kamu mengalaminya, kamu tidak sendiri kok.

Menurut laporan terbaru, selama pandemi ini, permintaan obat antidepresan meningkat hampir 19%. Selain itu jumlah orang yang berdatangan ke psikolog ataupun psikiater juga meningkat. Pasien ini di antaranya orang-orang yang mengalami depresi, cemas, hingga yang merasa ingin bunuh diri. Tak dapat dimungkiri wabah di tahun ini justru membawa dampak kesehatan mental yang cukup parah.

Sebenarnya gangguan psikologis tidak berbahaya asalkan dapat disikapi dengan baik. Misalnya stres itu wajar, terutama bagi orang-orang yang mengalami kelelahan fisik. Akan tetapi, hal seperti itu dapat disembuhkan dengan cara lebih banyak beristirahat dan menenangkan pikiran. Dengan demikian, setiap penyakit psikis pada dasarnya dapat diatasi mulai dari mengelola pikiran.

Khusus mengenai depresi, dapat disebut depresi merupakan gangguan psikologis yang dapat memicu bunuh diri. Seseorang yang mengalami depresi, dirinya sering dalam kondisi tertekan. Hal ini jika dibiarkan, dalam jangka panjang orang tersebut sudah tidak memiliki harapan hidup lagi.

Nah, untuk mengatasi depresi, tips berikut dapat kamu terapkan. Yuk disimak!

TOC / Daftar Isi

1. Kurangi Aktivitas Online

Aktivitas online dengan penyajian berita mengenai perkembangan kasus covid-19 dapat memicu depresi. Perasaan takut dan khawatir senantiasa berkeliaran di dalam pikiran. Gencarnya media berita dalam mengabarkan grafik virus yang terus meningkat, menyebabkan sebagian orang memiliki suasana hati yang tidak baik.

Lantaran terus melonjaknya kasus covid-19, masyarakat justru semakin khawatir dengan kondisi lingkungan mereka. Untuk dapat mengatasi pikiran berlebihan seperti itu, kamu perlu membatasi dan mengurangi aktivitas onlinemu. Dengan tertutupnya kemungkinan informasi berita, menjadikanmu lebih tenang dan lebih fokus dalam keseharian.

Kondisi seperti ini membantu kamu untuk tidak terus menerus bergelut dengan dunia maya. Interaksi sosial memang dibatasi, tetapi kontak di dunia maya pun tidak berarti menjadi semakin masif. Justru kondisi seperti inilah saatnya kamu menikmati waktu bersama keluarga dan orang dekat. Hal ini menjadikanmu lebih memperhatikan kondisi mereka sehingga selalu berpikiran positif akan kondisi lingkungan sekitar.

Jika aktivitas online semakin membuatmu merasa cemas hingga timbul depresi, maka kurangilah masa “online” mu. Dengan begitu, rasa tenang dapat kamu rasakan. Selama mematuhi protokol kesehatan, percayalah hal itu membawa dampak baik. Tidak perlu untuk mengurusi masalah orang lain karena yang terpenting adalah menjaga diri dan keluarga agar mampu bertahan di masa wabah sekarang ini.

Back to Content ↑

2. Rencanakan Kegiatan Menyenangkan

Work from home diserukan semenjak diterapkannya kebijakan untuk melakukan pembatasan sosial. Berkurangnya interaksi dengan teman, sahabat, komunitas, dan lain sebagainya, menjadikan setiap orang harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Tak jarang aktivitas “di rumah saja” membuatmu bosan. Bahkan, hal ini dapat memicu depresi jika tidak segera diatasi.

Oleh karenanya, kegiatan harianmu harus direncanakan. Meskipun bekerja di rumah, kamu harus memiliki aktivitas positif agar dapat terhindar dari depresi. Perasaan sedih, murung, tidak punya harapan, akan hilang ketika kamu mempunyai aktivitas pasti. Dengan demikian, langkah pertama adalah dengan merencanakan aktivitas harianmu.

Menjalani hobi dapat menjadi ide bagus sebagai solusi dalam masalah ini. Jika sebelum pandemi kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan, waktu work from home ini dapat mengistirahatkan aktivitas yang padat tadi. Hobi menjadi pilihan yang tepat. Sebab, hampir setiap orang memiliki hobi. Bentuk aktivitas ini dapat membuat perasaanmu senang. Bagaimana tidak, hobi yang kamu pilih tentu adalah hal yang kamu senangi.

Kegiatan lain yang dapat dilakukan misalnya dengan merencanakan liburan. Dengan syarat tetap aman dan mematuhi protokol kesehatan, kegiatan liburan dapat tetap dilakukan. Setidaknya, hal ini akan merefresh pikiranmu. Jernihnya pikiran akan membawa energi positif bagi diri sendiri dan lingkungan. Tidak ada salahnya untuk mengisi kegiatan positif harianmu dengan sesekali berliburan

Back to Content ↑

3. Berpikir Positif

Otak manusia memiliki keseimbangan antara pikiran positif dan pikiran negatif. Namun, sebagian besar dirancang ke arah negativitas. Sikap ini diturunkan sejak zaman nenek moyang yang selalu waspada ketika hidup di dalam gua. Sikap waspada itu sangat wajar dalam diri manusia. Hal itu ditujukan untuk melindungi dirinya dari kemungkinan buruk yang tidak diinginkan.

Akan tetapi, di masa pandemi ini bukan saatnya memikirkan hal yang akan memicu timbulnya rasa takut dan khawatir. Sebab pikiran akan mempengaruhi seluruh reaksi organ tubuh yang lain. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa saat kamu berpikir tentang sesuatu, otak akan mengeluarkan sejumlah senyawa. Dalam sehari, rata-rata manusia memiliki 60 ribu pikiran. Akibatnya, otak selalu dibanjiri senyawa kimia setiap harinya.

Senyawa dalam otak akan melepaskan energi sesuai dengan kondisi pikiran. Misalnya, ketika kamu sedih, putus harapan, dan pikiran buruk lainnya, makan senyawa kimia tersebut juga akan memberikan energi yang buruk. Energi buruk ini direaksikan ke lingkungan luar sehingga sepanjang kondisi pikiran buruk, kondisi psikologis seseorang juga akan menunjukkan keadaan yang demikian.

Sebaliknya, berpikir positif selalu diperlukan dalam setiap hal. Dengan berpikir positif, otak akan menghasilkan senyawa kimia yang baik pula. Tentu hal ini banyak membawa manfaat dan kemajuan dalam diri. Di masa pandemi seperti saat ini, kondisi pikiran yang positif sangat penting dalam menghadapi cepatnya perubahan lingkungan. Selama diri sendiri mampu berpikir positif, adaptasi terhadap keadaan lebih mudah dilakukan. Stay positive!

Back to Content ↑

4. Olahraga

Beragam studi telah membuktikan manfaat berolahraga. Tidak hanya baik untuk kesehatan fisik, tetapi juga bermanfaat untuk kesehatan mental. Jika yang kamu rasakan setelah berolahraga adalah mendapat tubuh yang bugar, ketahuilah bahwa kamu juga mendapat positive feeling. Perasaan ini akan dijaga oleh tubuh untuk menghasilkan energi positif sepanjang hari.

Kamu tidak perlu berpikir keras tentang olahraga apa yang seharusnya dilakukan. Cukup dengan olahraga ringan yang dapat dilakukan dirumah bisa kamu coba terapkan. Misalnya joging di pagi hari. Aktivitas ini sangat gampang dilakukan, tidak membutuhkan biaya besar, tetapi manfaat yang dirasakan sama seperti olahraga pada umumnya.

Selain itu, kamu tidak perlu muluk-muluk menetapkan waktu olahraga yang harus lama. Sebagai langkah awal, kami dapat memulainya dengan 5 menit setiap hari. Kemudian bertambah menjadi 10 menit, 20 menit, hingga mampu mencapai 30 menit sehari. Ingat, hal ini harus rutin dilakukan ya! Dampak jangka panjang selain kesehatan, kamu juga telah melakukan sebuah pembiasaan gaya hidup sehat dengan berolahraga.

Back to Content ↑

Depresi membawa efek tidak baik bagi tubuh. Selama pandemi, riset membuktikan bahwa orang yang menderita depresi meningkat. Kesehatan mental memang mudah terganggu, terlebih bagi orang yang tidak terbiasa dalam penerapan karakter hidup sehat, termasuk sehat mental. Tips di atas dapat membantumu mengatasi rasa cemas dan depresi yang mungkin dirasakan selama pandemi.