Skip to main content

Apa Itu Travel Bubble? Ini Yang Harus Kamu Ketahui

Travel Bubble

Apa Itu Travel Bubble? Ini Yang Harus Kamu Ketahui

Beberapa bulan terakhir, dunia digemparkan oleh virus corona yang telah menjadi pandemi global. Adanya wabah ini memberikan dampak pada semua bidang kehidupan. Contohnya, banyak usaha dalam sektor ekonomi yang mengalami kelumpuhan. Termasuk industri pariwisata pun mengalami dampak terbesar.

Ditutupnya tempat-tempat wisata sudah pasti tidak ada rupiah yang didapat dari sana. Diberhentikannya para pekerja pun menjadikan pengangguran bertambah. Bagaimana tidak, menjaga kesehatan agar tidak terkena virus corona menjadi hal yang lebih utama.

Travel Bubble banyak menjadi perbincangan industri pariwisata dalam beberapa pekan terakhir. Karena penerapan new normal, cukup banyak destinasi wisata yang kembali dibuka. Bahkan, pusat perbelanjaan besar seperti mall pun sudah ramai dikunjungi masyarakat. Meskipun demikian, protokol kesehatan harus tetap dipatuhi.

Nah, sebenarnya Travel Bubble artinya apa? Mungkin ada yang mengartikan, travel sebagai liburan, dan bubble sebagai gelembung. Jadi travel bubble adalah gelembung liburan, begitu? Tunggu, berikut penggambarannya.

Travel Bubble atau Travel Corridor adalah koridor perjalanan yang disepakati oleh para negara yang telah berhasil mengendalikan virus corona. Ketika wabah COVID-19 telah berhasil dikontrol, dua negara atau lebih kemudian menciptakan suatu gelembung perjalanan. Semua orang yang berada dalam gelembung tersebut dapat melintasi satu sama lain. Terdengar lebih mudah, bukan?

Penduduk suatu negara akan mudah berkunjung ke negara lain tanpa perlu menemui karantina wilayah. Gelembung perjalanan ini juga memudahkan para wisatawan berdatangan secara bebas. Oleh karena itu, travel bubble ini dianggap sebagai suatu solusi yang dapat meningkatkan kunjungan turis mancanegara. Namun, masih terdapat hal-hal yang perlu menjadi perhatian.

4 Hal Menarik Berikut Yang Harus Kamu Tahu Terkait Travel Bubble

1. Terkendalinya Penanganan Corona Virus

Travel Bubble hanya dapat dilakukan oleh negara-negara yang telah berhasil mengontrol wabah COVID-19. Sebab, negara-negara tersebut dapat dikatakan lebih aman dalam hal penyebaran virusnya. Penanganan virus corona disetiap negara memiliki kebijakan yang berbeda-beda. Oleh karenanya, tingkat keberhasilan dalam mencegah merebak nya wabah pun berbeda. Ada negara yang kasusnya belum mencapai puncak, dalam hal ini masih terus bertambah setiap hari. Ada juga negara yang justru telah berhasil menangani wabah ini.

Mulai bertambahnya negara yang telah berhasil menangani COVID-19 membuka inisiatif untuk kembali menghidupkan sektor pariwisata mereka. Pariwisata sendiri merupakan salah satu sektor yang menyumbang besar terhadap pendapatan domestik bruto. Dengan ini, badan pemerintah bidang pariwisata di berbagai negara mulai melakukan kerja sama travel bubble. Kegiatan promosi tempat wisata pun mulai dilakukan untuk menarik kembali para wisatawan.

2. Perbatasan Lintas Negara Harus Menaati Protokol Kesehatan

Mudahnya melewati batas negara akibat kerja sama travel bubble membuat penduduk berbondong-bondong melakukan kunjungan wisata. Destinasi wisata lintas negara menjadi lebih mudah diakses. Pemberlakuan karantina wilayah bagi negara dengan travel bubble sudah tidak menjadi halangan.

Meskipun demikian, travel bubble tetap memiliki syarat, yaitu harus menaati protokol kesehatan. Virus corona di negara tersebut memang telah berhasil dikontrol. Namun, tidak menutup kemungkinan virus ini akan tersebar kembali. Oleh karenanya, protokol kesehatan tetap harus diterapkan. Protokol kesehatan ini diterapkan untuk tetap menjaga keamanan agar tidak terpapar virus corona. Selain itu, para turis mancanegara harus menjaga kesehatan diri mereka masing-masing. Apabila berangkat liburan mereka sehat, maka pulang liburan pun harus tetap sehat.

3. Bisnis Mulai Tumbuh Kembali

Dibukanya perjalanan lintas negara menjadi tanda dilonggarkannya karantina wilayah. Pada dasarnya, awal trend bepergian akan banyak dilakukan oleh para pengusaha. New normal membuka kembali peluang pertumbuhan bisnis. Bagi para pengusaha yang butuh bepergian ke negara dengan travel bubble, hal ini tentu menjadi manfaat yaitu memudahkan bisnis mereka.

Harapannya dengan ini, bidang bisnis akan tumbuh meluas. Kerja sama bilateral antar pengusaha tumbuh kembali. Perekonomian negara membaik sejalan dengan tumbuhnya bisnis para pengusaha.

4. Rencana Kemenparekraf Untuk Membuka Travel Bubble

Travel Bubble di Indonesia masih menjadi hal yang dinegosiasikan. Pasalnya, beberapa daerah di Indonesia, grafik kasus COVID-19 nya terus menaik. Meskipun telah memasuki new normal, kasus virus corona nyatanya masih ada penyebaran. Masyarakat kembali diserukan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Bahkan disarankan agar tetap berada di rumah saja.

Adapun beberapa provinsi yang kembali membuka objek wisatanya melakukan protokol kesehatan dengan sangat ketat. Ada yang mewajibkan tes swab sebelum masuk wisata. Dibukanya objek wisata tersebut membuktikan bahwa mereka sudah dapat menerima wisatawan. Perekonomian daerah pun terdongkrak naik. Pemulihan pemulihan ekonomi melalui pariwisata ini memang menjadi solusi.

Walaupun Indonesia membuka destinasi wisata lokal, tetapi mengenai travel bubble belum terjadi kesepakatan dengan negara lain. Pembatasan lintas negara masih dilakukan. Sebab kasus corona di Indonesia pun belum dapat dikendalikan secara keseluruhan. Diprediksi pariwisata mancanegara baru akan kembali normal pada tahun 2024 atau 2025. Normalnya di sini maksudnya adalah kembalinya jumlah wisatawan seperti biasa sebelum adanya pandemi, yaitu sekitar 16 juta wisman.

Pada November yang akan datang, kementerian luar negeri dan kementerian kesehatan akan meluncurkan aplikasi 'Bersatu Lawan COVID-19'. Kunjungan mancanegara mungkin akan dibuka tetapi dengan syarat melakukan protokol kesehatan. Selain itu, diharuskan untuk bersama-sama berupaya melawan corona dengan menggunakan aplikasi tersebut.

Travel Bubble menjadi koridor perjalanan yang membuka kerja sama lintas negara. Kerja sama ini dapat meningkatkan kunjungan wisata mancanegara. Bagi negara-negara yang telah berhasil melalui pandemi, tentu pertumbuhan ekonomi mereka kembali dihidupkan. Dibukanya akses pariwisata menjadi memicu awal mulai normalnya lalu lintas wisata di negara tersebut. Dengan begitu, diharapkan akan menjadi langkah awal pemulihan ekonomi.

Pemulihan ekonomi setelah masa pandemi memang tidak cepat. Sebab penyesuaian protokol kesehatan masih ada. Karena Corona virus pun belum sepenuhnya dapat dibasmi dengan tuntas. Banyak tugas pemerintahan negara setelah menyelesaikan kasus Corona nya. Contohnya kebijaksanaan new normal di Indonesia merupakan salah satu bentuk kembalinya kehidupan seperti semula dengan tetap menjaga kesehatan mandiri.

Perbaikan ekonomi mulai digiatkan. Sudah banyak perusahaan besar yang beroperasi. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pun mulai bangkit kembali. Dengan travel bubble, peluang bisnis-bisnis kembali dibuka. Perbatasan negara ataupun lock down sudah bukan menjadi penghambat. Setidaknya, travel bubble antarnegara telah diadakan, meskipun belum banyak kunjungan.

Negara-negara yang telah berkerjasama melalui travel bubble ini antara lain China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru. Mereka menerapkan travel bubble, tetapi dengan pertimbangan. Karena selain menarik dibukanya kunjungan bagi para pengusaha, wisatawan asing pun mulai tertarik. Mereka harus memperhatikan negara asal para wisatawan. Jadi, travel bubble hanya dilakukan oleh negara-negara yang melakukan kerja sama koridor perjalanan tersebut. Otomatis penduduk di negara tersebut dapat melintasi wilayah travel bubble nya.