Skip to main content

Menarik! 4 Hal Ini Yang Terjadi Selama Kuliah Daring

Kuliah Daring

Menarik! 4 Hal Ini Yang Terjadi Selama Kuliah Daring

Pandemi COVID-19 tak hanya membawa dampak besar terhadap kelumpuhan perekonomian, tetapi juga berdampak ke struktur pendidikan. Banyak kebijakan yang berubah dengan cepat mengikuti dinamisnya kasus COVID-19. Tak jarang cepatnya perubahan ini memberi dampak kesehatan mental para peserta didik, khusunya pada jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

Contohnya mereka yang tahun ini mengikuti Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dituntut agar cepat beradaptasi. Tuntutan untuk dapat menyesuaikan kebijakan yang diambil lembaga penyelenggara tes, yakni Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi Negeri (LTMPT) menjadikan angkatan 2020 ini sebagai angkatan paling tangguh.

Sejumlah kebijakan silih berganti sejak April hingga bulan Juni lalu. Dapat dipastikan, para rektor Universitas yang tergabung dalam LTMPT menetapkan kebijakan yang paling baik. Alhasil, penyelenggaraan UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) yang berbarengan dengan SBMPTN berjalan lancar. Bagaimana pun, penyaringan mahasiswa baru harus tetap dilakukan, meski di tengah wabah sekarang ini.

Menjamin sebanyak tujuh ratus ribu calon mahasiswa baru (maba) tetap sehat dan selamat mengikuti UTBK menjadi dasar kebijakan LTMPT. Salah satu strategi yang dilakukan adalah dengan membagi menjadi dua gelombang. Awalnya, hanya satu gelombang, kemudian dirombak sedemikian rupa. Oleh karena satu gelombang dianggap terlalu padat dan memicu timbulnya kerumunan massa, mereka akhirnya menetapkan UTBK dua gelombang. Terbukti, dengan menaati protokol kesehatan, UTBK berjalan lancar.

Berbeda dengan sistem penerimaan maba, keputusan kuliah daring harus dijalani para mahasiswa. Seluruh mahasiswa di semua semester, mengikuti sistem perkuliahan online ini. Namun, ada pengecualian bagi mereka yang duduk pada semester tujuh atau delapan masa kuliah. Masa untuk mempersiapkan skripsi dan sidang akhir menjadikan mereka tetap boleh beraktivitas di kampus, meskipun kuantitasnya sedikit dikurangi.

Akan tetapi, semakin merebaknya virus corona ke seluruh wilayah Indonesia, menjadikan seluruh aktivitas perkuliahan di kampus dihentikan. Para mahasiswa yang tengah mengerjakan skripsi pun harus berkonsultasi secara online dengan dosen pembimbing mereka. Hal ini membuat banyak perubahan baik bagi mahasiswa maupun dosen dalam menyampaikan mata kuliah.

Sepanjang hampir satu semester perkuliahan, apa saja hal-hal menarik yang terjadi selama perkuliahan daring saat ini? Yang mungkin kamu belum tahu, yuk simak informasi berikut.

1. Rektor Yang Positif Corona

Beberapa waktu terakhir dikabarkan bahwa rekor Universitas Sumatera Utara (USU) dinyatakan positif corona. Sejak saat itu, Prof Runtung Sitepu, rektor USU, kemudian menjalani isolasi mandiri selama 14 hari. Selain rektornya, Rosmayati Tanjung, Wakil Rektor I USU juga dinyatakan positif corona. Keduanya termasuk orang tanpa gejala sehingga masih terlihat sehat, tetapi tetap menjalani isolasi mandiri.

Pada 25 Juli 2020 Prof Runtung Sitepu telah dinyatakan sembuh. Pernyataan itu disimpulkan setelah ia menjalani dua kali tes swab dengan hasil negatif. Dengan hal tersebut, rektor Universitas di Sumatera ini mengakhiri masa isolasinya.

Selain rektor yang positif corona, salah satu pemimpin penyelenggara UTBK di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta juga dinyatakan positif Covid. Gedung dan fasilitas kampus ini ditutup sementara usai pemberitaan tersebut. Kantor pusat, auditorium, rumah dinas, serta tempat-tempat yang disinggahi olehnya pun disemprotkan disinfektan.

Sangat dihindari untuk melakukan aktivitas di kantor pusat jika tidak benar-benar penting. Adapun rektor UNS tersebut sementara waktu kantor di tempat lain dengan tetap isolasi mandiri.

Sementara itu, penyelenggaraan UTBK tetap berjalan. Pengawasan akses masuk kemudian diperketat. Hanya peserta UTBK yang boleh masuk. Itu pun harus mengikuti protokol kesehatan. Bahkan, syarat tambahannya mereka harus membawa surat keterangan sehat agar dapat mengikuti UTBK di UNS tersebut.

2. Keterbatasan Interaksi

Kuliah sistem online dijalani mahasiswa sejak akhir Maret yang lalu. Pemanfaatan media sosial dengan berbagai aplikasi pendukung banyak dimanfaatkan. Adanya pandemi ini menyebabkan sebagian besar masyarakat melakukan pekerjaannya melalui ponsel atau komputer mereka.

Jumlah unduhan aplikasi seperti zoom , jitsi meets, dan google meets meningkat tajam. Aplikasi pendukung meeting online tersebut dirasa sangat berguna dalam menghubungkan satu komunitas ataupun organisasi. Aturan yang melarang untuk berkerumun membuat segala aktivitas berpindah dilakukan secara daring.

Kamu pasti juga sudah merasakan pertemuan-pertemuan online dengan aplikasi tersebut. Namun, apakah kamu mendapat hambatan? Tak dapat dimungkiri, meskipun sama-sama pertemuan, sistem meeting online menyebabkan lebih sulit dalam berinteraksi. Hal ini diungkapkan oleh sejumlah dosen universitas bahwa mereka merasa kesulitan berinteraksi dengan mahasiswanya. Ketika menyampaikan mata kuliah secara daring, ada saja kendala. Mulai dari lemahnya sinyal, terbatasnya koneksi internet, hingga mahasiswa yang sulit dihubungi karena tidak online.

Tetap ada saja bedanya antara kuliah tatap muka dengan meeting online. Sebagain mahasiswa mengaku bahwa mereka cukup kesulitan memahami penjelasan yang disampaikan dosen. Interaksi untuk bertanya jawab pada awalnya tidak maksimal. Terlebih bagi mahasiswa jurusan teknik yang membutuhkan praktik lapangan, sistem perkuliahan seperti ini tentu sangat menghambat.

3. Banyak Provider Menyediakan Paket Data Yang Murah

Sejak dimulainya “belajar di rumah” banyak provider-provider yang menyediakan paket data lebih murah dari biasanya. Bahkan, beberapa dari mereka memberikan akses gratis untuk suatu aplikasi tertentu yang mendukung sistem belajar di rumah.

Contohnya, Zenius bekerja sama dengqn XPedia dan Telkomsel untuk menggratiskan akses materi dan soal-soal latihan. Selain itu, ada juga Ruangguru yang memulai kelas online setiap harinya. Mirip seperti jam sekolah, setiap materi pembelajaran memiliki porsi waktunya masing-masing. Tak hanya itu, di hari Senin pun diadakan upacara bendera secara daring di aplikasi tersebut.

Banyak kerja sama provider Indonesia untuk menyokong pembelajaran daring bagi mahasiswa. Hal itu ditujukan sebagai kontribusi memerangi covid19 dengan tetap belajar dan melakukan aktivitas positif selama berada di rumah.

4. Turunnya UKT

Akibat sektor perekonomian yang terdampak pandemi, pendapatan sebagian besar masyarakat menurun. Bahkan, tidak sedikit yang terkena PHK ataupun bisnisnya gulung tikar. Beragam bantuan mulai dari bantuan sembako hingga uang tunai banyak digelontorkan pemerintah. Tak lupa di bidang pendidikan. Beberapa universitas mengeluarkan kebijakan penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa yang orang tuanya terkena dampak pandemi. Kebijakan tersebut diambil untuk meringankan pembiayaan mereka. Dengan begitu, mahasiswa yang kurang mampu dapat tetap mengikuti perkuliahan dengan lancar.

Naik turunnya kasus corona menjadikan kebijakan yang diambil bersifat dinamis mengikuti perkembangan kasus saat ini. Kuliah daring yang dijalankan para mahasiswa sedikit banyak memberikan manfaat bagi mereka. Dengan sistem ini, mahasiswa diharuskan untuk mandiri. Karena materi pelajaran disampaikan secara daring, mereka harus menambah pemahaman sendiri akan materi tersebut. Meskipun terkendalanya ruang diskusi, justru di masa wabah seperti ini mereka mampu menambah skil-skil baru. Contohnya, mengikuti dan menyimak materi webinar. Webinar yang diadakan dapat mengisi aktivitas mereka. Oleh karenanya, bagaimanapun keadaan yang terjadi di lingkungan sekitar, kamu harus memandang ini sebagai hal yang positif. Dari positive thinking dan positive feeling, kamu akan mampu menjadikan kondisi wabah ini untuk meningkatkan semangat belajar mu.

BACA JUGA : 10 Jurusan Hubungan Internasional Terbaik Di Indonesia